Senin, 05 Januari 2015

Mars KAMMI


Karya Cipta : Maukuf



















Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia 2X
Berjuang tegakkan ketauhidan
Untuk Kemuliaan
Berbekal ilmu iman yang mendalam
Mahasiswa Muslim Indonesia

Intelektual Masyarakat Beriman
Islam Jiwa Perjuangan
Kebatilan adalah musuh insan
Islam jalan perjuangan


Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia 2X
Berjuang tegakkan kebenaran
Ciptakan Masyarakat Bermoral
Berbekal ilmu iman yang mendalam
Mahasiswa Muslim Negarawan

Perbaikan tradisi dalam berjuang
Memimpin ummat gapai kemenangan
Persaudaraan watak dalam berjuang
Solusi islam dalam perjuangan


Kaca Yang Berdebu - Maidany

Kaca Yang Berdebu

Album : Bahasa jiwa
Munsyid : Maidany
http://liriknasyid.com














Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu keras membersihkannya
Nanti ia mudah retak dan pecah

Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu lembut membersihkannya
Nanti ia mudah keruh dan ternoda

Ia bagai permata keindahan
Sentuhlah hatinya dengan kelembutan
Ia sehalus sutera di awan
Jagalah hatinya dengan kesabaran

Lemah-lembutlah kepadanya
Namun jangan terlalu memanjakannya
Tegurlah bila ia tersalah
Namun janganlah lukai hatinya

Bersabarlah bila menghadapinya
Terimalah ia dengan keikhlasan
Karena ia kaca yang berdebu
Semoga kau temukan dirinya
Bercahayakan iman

Kamis, 25 Desember 2014

Duhai Sampaikanlah

Duhai Sampaikanlah

Duhai dara, sampaikanlah..
Sampaikan segores baktiku di air mukanya
Jangan. Janganlah kau endap di sangkar
Tidak. Ramuan hati tak awet mengakar

Duhai rembulan, sampaikanlah..
Sampaikan suryamu di kalbunya
Jangan. Janganlah kau endap di angkasa
Tidak. Cahaya bening sejuk terasa

Hening. Sepi. Bisu.
Suara jangkrik menampar sendu
Langit menatap muka nan sayu
Pilu  hati tertusuk tombak batu

Duhai, bisukah kau wahai dara ?
Hey, tulikah kau wahai bulan ?
Nona bertanya asa terhenyak
Nafas bisu menderu menerpa

Ulangi lagi. Sampaikanlah..
Sampaikan sesal dan maafku untuknya
Duhai, sampaikanlah!
Sampaikan cinta lama beralas doa

Terlambatkah ?
Berjuta ‘Ah’ kulontar mengiris noktah
Beribu peluru kuhantar  menyayat nanar
Sampaikah, Bunda ?

Dimuat di  : http://www.sejutaekspresi.com/tulisan/duhai-sampaikanlah/

Kamis, 04 Desember 2014

Jangan Jadi Penulis



Ucapan beliau cukup membuat dadaku berdegub kencang. Bukan. Aku tidak sedang jatuh cinta. Hanya saja terdiam, menelan ludah, menelisik lagi niat dalam hati. Menghapus tulisan-tulisan buruk yang terpampang di kronologi Facebookku. 

Membuat gumpalan daging dalam dada bertanya “Sudah benarkah niatnya ? Apakah yang kuharapkan hanya anggapan orang-orang ? Popularitas ? Dunia ?”

“Wah dia seorang penulis ! Sungguh hebatnya ia..” Itukah yang kumau ? Lantas aku bertanya pada hati. Entah ia menjawabnya dengan apa, tapi aku menemukan jawabannya. Ah, ternyata aku salah ! 

Astaghfirullah..

Aku harap aku tidak sedang lupa pada hadits yang seringkali terngiang. Bahwa segala sesuatu tergantung niatnya. Sungguh baik jika niat seorang penulis karena ingin menebarkan hikmah, inspirasi, ilmu yang bermanfaat bagi yang lain. Bagaimana jika bukan itu ?

“ Setiap kita terlahir sebagai seorang penulis,  menulis tidak membutuhkan minat dan bakat, tapi ketekunan dan keuletan. Maka persiapan untuk menulis, harusnya menuntut ilmu terlebih dahulu.” 

Kira-kira begitu kata beliau. 

“Kalaupun cita harus dikubur hidup-hidup, kita masih bisa memberi bunga di atas makamnya. Benarlah beliau. Apalah arti sebuah karya tanpa kemanfaatan, tanpa keikhlasan, tanpa ilmu..”