Minggu, 25 Oktober 2015

Titik Jenuh

Ketika saya menuliskan kalimat ini dengan lengkap, saya pasti mengakhirinya dengan titik. Saya menulis lagi kalimat berikutnya, kemudian saya akhiri lagi dengan titik. Saya mencoba menulis lagi kalimat ketiga dan saya yakin, pasti kalimat ini akan berakhir lagi dengan titik. Dan begitu seterusnya. 

Sama halnya dengan hidup. Dalam hidup ini kita selalu melakukan hal dengan pola yang sama setiap harinya. Kita terbangun, melakukan aktifitas, tertidur, kemudian bangun lagi. Ditambah lagi dengan tanggungjawab yang banyak. Seorang guru yang diamanahkan untuk mendidik murid-muridnya dengan kesabaran, seorang ayah yang berusaha memenuhi kebutuhan isteri dan anak-anaknya, seorang anak yang berusaha berbakti kepada orang tua, seorang ketua kelas yang harus memenuhi hak anggotanya, seorang karyawan yang harus bekerja dengan baik. Satu orang yang dipenuhi oleh amanah yang banyak

Terkadang itu semua membuat kita  jenuh, bosan. Titik dimana kita telah kehabisan daya, lemah. Titik dimana kodrat manusia akan muncul. Sama seperti teori larutan, kehidupan juga memiliki titik jenuh.

Teringat akan kisah Nabi Yunus as, ketika dakwahnya selalu ditolak oleh kaumnya yang ingkar, beliau sempat lari dan meninggalkan kaumnya. Lantas Allah memberi tarbiyah melalui teguran.

Nabi Nuh yang pernah merasakan bahwa dirinya sudah tidak sanggup lagi membimbing kaumnya yang selalu ingkar, bahkan beliau berdo’a kepada Allah agar kaumnya diberi adzab agar hanya tersisa orang-orang yang beriman saja lagi. Tapi doanya tidak dikabulkan Allah.

Para Nabi pun pernah berada pada titik itu, namun mereka tetap berjuang melawan keputusasaan. Bagaimana dengan saya yang hanya manusia biasa ? Pada akhirnya saya temukan bahwa kita tidak perlu mengurangi amanah yang kita emban, hanya saja kita perlu sedikit jeda.

Kamis, 27 Agustus 2015

Waktu + Jarak = Obat

Memori adalah sesuatu yang aneh, dia sangat berat ketika dilupakan dan datang begitu cepat saat dipancing oleh sesuatu. Entah itu perasaan, kejadian, nama, atau aroma kaos kaki -mungkin. 

Waktu. Dia lebih seperti misteri. Tak selalunya waktu bisa dijadikan barometer kedalaman dan kekuatan. Hmm, bukan itu yang ku maksud. Aku tidak bicara soal echosounder yang bisa mengukur kedalaman laut. Atau seismometer untuk tahu seberapa kuatnya gempa.

Senin, 17 Agustus 2015

Love In Roses


Bismillaahirrahmaanirrahiim


Di malam yang dingin ini, entah mengapa sepulang dari kegiatan di kampus rasanya jemariku  gatal. Iya gatal. Tapi tolonglah, jangan berfikiran bahwa aku sedang mengidap panu, ya !  Terima kasih atas tawaran bedak gatalnya ^^

Hmm, sebenarnya begini.. Sudah beberapa bulan aku tak membelai keyboard laptop kesayanganku.Uneg-uneg sudah terendap di otak, seperti air yang tumpah berceceran dari  panci karena mendidih. Sayang  rasanya jika tak bisa terabadikan. Khawatir lupa. Oleh karena itu, kuputuskan menulis sesuatu.

Ku lirik jam dinding berwarna pink yang meramaikan suasana. Sedari tadi ia ber-tik-tok ria dan kini sukses membuat suasana sedikit lebih angker -mungkin-. Ia seakan berkata bahwa ini sudah larut ! Pukul 23:23. Aku tidak ingin begadang, hanya saja  lebih baik menggunakan waktu insomnia untuk hal yang bermanfaat. Menulis di malam hari, saat orang lain sedang bermain di alam mimpi. Setidaknya ini membuatku lebih mudah berkonsentrasi.

Cetak-cetuk-cetak ! Akhirnya aku berhasil memutar kembali memori yang lalu. Hal yang ingin aku tulis, namun belum sempat terealisasi.  It's about love. Aku mencintai benda, hal, kisah, atau apapun itu yang terkesan unik, menarik, dan mempunyai arti. Termasuk bunga-bunga, khususnya rose. Aku menyukai wujud bunga yang satu ini, karena cantik seperti kita. Hohoho (^_^). Maksudku secantik makna yang ada padanya.
Mawar ibarat muslimah, dan aturan Allah adalah durinya. Secantik apapun wujudnya, sewangi apapun aromanya, tetap saja tidak sembarang orang mampu memetik. Ini tentang mawar dan aku perlu belajar darinya.


Tentang Mawar
"Mawar itu. Kau temukan aroma harum ketika menyentuh bunganya. Sakit tapi. Ketika jari menyentuh tangkai berduri."
"Mawar indah hanya dapat kau petik jika durinya telah kau tebas"



Balikpapan, 18 Agustus 2015
Di sudut ruang imajinasi

Kamis, 30 Juli 2015

Nugget Bandeng Ala Rizka



Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Bahagia itu sederhana, sesederhana menu makan siang hari ini. Saya kebetulan diberi tugas menggantikan pekerjaan mamah selama libur kuliah. Mulai dari mencuci, menyapu, bersih-bersih, hingga memasak. Ya, saya anggap ini sebagai latihan ketika kelak saya diamanahi sebagai ibu
(uhuk). 

Sabtu, 27 Juni 2015

Assalamu’alaikum Hijab

Ini bukan cerita luar biasa, hanya sepotong episode pencarian, mungkin. Percayakah kau bahwa ternyata selembar kain dapat mengubah dunia ? Mengubah kehidupan seseorang ? Sungguh, kawan. Ini bukanlah kisah seorang gadis penjahit gaun.  Bukan pula kisah seorang putri yang mencari  tahta kerajaan.  Bukan sebuah kisah dari negeri dongeng penuh keindahan dan khayalan. Apalagi

Selasa, 26 Mei 2015

Tanah Kering Mencintai Embun

Aku ingin mencintai kau sebagaimana tanah kering mencintai embun. Kau tahu ? Tanah kering membutuhkan setetes kesejukkan, kesegaran, yang semuanya bisa didapatkan dari embun. Sebagaimana aku membutuhkan kau.

Namun sayang, tanah tak mampu menyentuh embun yang berada jauh diatas permukaan daun. Dan kalaupun tanah mampu, ia pasti tak melakukan itu. Seperti aku yang tak mampu menyentuh kau. Dan meskipun aku mampu, aku tak mau. Aku tak mau Allah membenciku.

Minggu, 10 Mei 2015

Mahasiswa Pencari Muka


Statement 1 :
Mbak-mbak eh mas-mas, jadi mahasiswa ga usah ‘cari muka’. Duduk maunya di barisan paling depan, supaya dilihat dosen. Datang paling awal, pulangnya  sok belakangan. Dosen nanya, dia ngejawab mulu. Disuruh nanya, nanya yang susah-susah, akhirnya yang lain ikut pulang telat gegara dosennya ngejelasin panjang lebar.

Teman Hidup

Mencari sahabat tak ubahnya seperti mencari teman hidup. Semakin dekat, semakin kenal, semakin cinta. Semakin cinta, semakin kita memahami lebih-kurangnya “dia”. Bahkan akan ada suatu masa dikala semua keburukannya hampir saja menutup matamu. Namun, tetap saja. Kamu masih bertahan dengannya. Setia. Setia dengan orang yang “terlanjur” kamu pilih. Kamu percayakan.

Seolah-olah ada ikatan resmi diantaramu, meski wujudnya bukan pernikahan. Namun, rasanya ganjil jika kamu pergi meninggalkan dia hanya karena kamu tahu kekurangannya. Bukankah kurang itu manusiawi ? Mungkin saja dia juga merasa kamu tidak seperti “kamu”.  Namun, baginya ada berjuta alasan untuk tetap bersama.

Akhirnya terlintas di pikiranmu tentang satu hal. Selingkuh. Berganti  sahabat baru yang kamu anggap lebih baik.

Sekali-kali tidak. Kamu, aku, kita. Semua punya sisi buruk. Namun jangan pernah lupakan sisi

Minggu, 18 Januari 2015

Cita Pemotret



Bicara tentang fotografi seringkali membuat kita membayangkan sesuatu yang WAH ! Kamera mahal, Lensa mahal, perlengkapan mahal, tempat indah, model yang rupawan, objek yang menawan, dan hal-hal serba eksklusif lainnya.

Senin, 05 Januari 2015

Mars KAMMI


Karya Cipta : Maukuf



















Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia 2X
Berjuang tegakkan ketauhidan
Untuk Kemuliaan
Berbekal ilmu iman yang mendalam
Mahasiswa Muslim Indonesia

Intelektual Masyarakat Beriman
Islam Jiwa Perjuangan
Kebatilan adalah musuh insan
Islam jalan perjuangan


Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia 2X
Berjuang tegakkan kebenaran
Ciptakan Masyarakat Bermoral
Berbekal ilmu iman yang mendalam
Mahasiswa Muslim Negarawan

Perbaikan tradisi dalam berjuang
Memimpin ummat gapai kemenangan
Persaudaraan watak dalam berjuang
Solusi islam dalam perjuangan


Kaca Yang Berdebu - Maidany

Kaca Yang Berdebu

Album : Bahasa jiwa
Munsyid : Maidany
http://liriknasyid.com














Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu keras membersihkannya
Nanti ia mudah retak dan pecah

Ia ibarat kaca yang berdebu
Jangan terlalu lembut membersihkannya
Nanti ia mudah keruh dan ternoda

Ia bagai permata keindahan
Sentuhlah hatinya dengan kelembutan
Ia sehalus sutera di awan
Jagalah hatinya dengan kesabaran

Lemah-lembutlah kepadanya
Namun jangan terlalu memanjakannya
Tegurlah bila ia tersalah
Namun janganlah lukai hatinya

Bersabarlah bila menghadapinya
Terimalah ia dengan keikhlasan
Karena ia kaca yang berdebu
Semoga kau temukan dirinya
Bercahayakan iman

Kamis, 25 Desember 2014

Duhai Sampaikanlah

Duhai Sampaikanlah

Duhai dara, sampaikanlah..
Sampaikan segores baktiku di air mukanya
Jangan. Janganlah kau endap di sangkar
Tidak. Ramuan hati tak awet mengakar

Duhai rembulan, sampaikanlah..
Sampaikan suryamu di kalbunya
Jangan. Janganlah kau endap di angkasa
Tidak. Cahaya bening sejuk terasa

Hening. Sepi. Bisu.
Suara jangkrik menampar sendu
Langit menatap muka nan sayu
Pilu  hati tertusuk tombak batu

Duhai, bisukah kau wahai dara ?
Hey, tulikah kau wahai bulan ?
Nona bertanya asa terhenyak
Nafas bisu menderu menerpa

Ulangi lagi. Sampaikanlah..
Sampaikan sesal dan maafku untuknya
Duhai, sampaikanlah!
Sampaikan cinta lama beralas doa

Terlambatkah ?
Berjuta ‘Ah’ kulontar mengiris noktah
Beribu peluru kuhantar  menyayat nanar
Sampaikah, Bunda ?

Dimuat di  : http://www.sejutaekspresi.com/tulisan/duhai-sampaikanlah/

Kamis, 04 Desember 2014

Jangan Jadi Penulis



Ucapan beliau cukup membuat dadaku berdegub kencang. Bukan. Aku tidak sedang jatuh cinta. Hanya saja terdiam, menelan ludah, menelisik lagi niat dalam hati. Menghapus tulisan-tulisan buruk yang terpampang di kronologi Facebookku. 

Membuat gumpalan daging dalam dada bertanya “Sudah benarkah niatnya ? Apakah yang kuharapkan hanya anggapan orang-orang ? Popularitas ? Dunia ?”

“Wah dia seorang penulis ! Sungguh hebatnya ia..” Itukah yang kumau ? Lantas aku bertanya pada hati. Entah ia menjawabnya dengan apa, tapi aku menemukan jawabannya. Ah, ternyata aku salah ! 

Astaghfirullah..

Aku harap aku tidak sedang lupa pada hadits yang seringkali terngiang. Bahwa segala sesuatu tergantung niatnya. Sungguh baik jika niat seorang penulis karena ingin menebarkan hikmah, inspirasi, ilmu yang bermanfaat bagi yang lain. Bagaimana jika bukan itu ?

“ Setiap kita terlahir sebagai seorang penulis,  menulis tidak membutuhkan minat dan bakat, tapi ketekunan dan keuletan. Maka persiapan untuk menulis, harusnya menuntut ilmu terlebih dahulu.” 

Kira-kira begitu kata beliau. 

“Kalaupun cita harus dikubur hidup-hidup, kita masih bisa memberi bunga di atas makamnya. Benarlah beliau. Apalah arti sebuah karya tanpa kemanfaatan, tanpa keikhlasan, tanpa ilmu..”

Rabu, 22 Oktober 2014

Manfaat Organisasi Itu..



“Nggak capek kah ya ikut organisasi ? Banyak banget kegiatannya. Jadi panitia, koordinator acara, nyari-nyari dana buat ngadain event yang nggak seberapa, ngomong di depan umum sampai gagap-gagap meski audiensnya nggak banyak, udah gitu sukarela, alias nggak dibayar pula”.

Dua tahun lalu, ketika teman-teman melemparkan pertanyaan semacam itu saya tidak bisa menjawab. Kalau dipikir, benar juga apa yang dikatakan. Tapi saya selalu mengingat pesan senior saya sewaktu duduk di bangku SMA, “ Ingat pesan mbak ya dek, segala bentuk kegiatan  yang kita lakukan ini tidak sia-sia. Kita bekerja untuk mewujudkan visi organisasi, demi kebaikan. Mungkin manfaat itu belum bisa dirasa saat ini, tapi nanti”, begitulah kira-kira pesan beliau. 

Berdasarkan pengakuan teman saya, baik yang duduk di bangku SMA, mahasiswa,  maupun pekerja, sebagian berpikir bahwa berorganisasi sambil bersekolah, kuliah, apalagi bekerja  itu menyusahkan. Iya, saya rasa pendapat itu benar. Namun, tentu semua bisa diatasi dengan manajemen waktu yang baik, yang saya pun masih belajar untuk itu.

Kalau ada yang bilang bahwa kuliah itu hanya duduk di kelas saja dan mengikuti proses pembelajaran dengan baik, saya kurang sepakat. Karena belajar tak hanya bisa di lakukan di kelas, kita bisa belajar dimana saja. Dan ada hal-hal tertentu yang tak bisa kita pelajari hanya dengan duduk di kelas, salah satunya adalah softskill, yaitu suatu kemampuan untuk mengendalikan emosi dalam diri,  dapat menerima nasehat orang lain, mampu memanajemen waktu, dan selalu berpikir positif. Itu semua bisa didapat jika kita mau keluar dari zona nyaman, berorganisasi.

Sesungguhnya bukan hanya itu manfaatnya, ada beberapa hal yang kiranya akan kita dapat jika kita mau menyibukkan diri dengan berorganisasi, tentunya organisasi positif, yaitu :

1.       Luas Jaringan

Meski tidak terkenal, setidaknya dengan berorganisasi kita cukup banyak mengenal orang-orang baru yang ada di sekitar. Dan bisa jadi orang-orang yang kita kenal bukanlah dari kalangan biasa, entah itu pengusaha, dosen, penulis, reporter, atau ustadz. Dengan luasnya jaringan pertemanan, kita akan mudah untuk saling bantu-membantu dan belajar dari mereka yang telah sukses.

2.       Kemampuan Komunikasi

Dengan aktif di organisasi, kita dituntut untuk bisa mengemukakan pendapat, membaca sesuatu di depan umum, memimpin rapat, dsb. dengan tidak memandang seberapa pemalunya kita. Hal ini tentu akan mengasah kemampuan berbicara kita. Meski awalnya takut, panas dingin, malu, bahkan sampai pingsan (hehe), tapi semakin bertambahnya ‘jam terbang’untuk berbicara di depan umum, insyaallah kemampuan bicara kita akan semakin baik. Bahkan bisa menjadi seorang pembicara atau mentor.


3.       Jiwa Kepemimpinan (Leadership)

Ternyata tugas menjadi penanggungjawab atau koordinator acara dalam suatu event yang notabene tidak dibayar itu membuat seseorang  lebih percaya diri untuk menanggung beban. Ketika sudah percaya diri dan mampu bertanggungjawab, biasanya kita akan lebih mudah untuk memimpin, cerdas dalam mengambil keputusan, yang tentunya sangat berguna bagi kehidupan sehari-hari.

4.       Membentuk Karakter

Dengan tergabung dalam lingkaran organisasi, kita akan lebih sering berinteraksi dengan orang-orang baru yang tidak kita kenal sebelumnya dengan berbagai karakter. Dan sudah menjadi rahasia publik, ketika kita berkumpul dengan orang baik tentu kita akan tertular menjadi baik, begitu pula sebaliknya. Karenanya, kita harus meneliti lagi organisasi apa yang kita ikuti, apakah mengarah pada sesuatu yang positif atau tidak. Tentu kita bisa menilai.

5.       Menambah Keterampilan dan Ilmu Pengetahuan

Biasanya dalam suatu organisasi ada agenda khusus  untuk mengembangkan skill dan pengetahuan para anggotanya, misalnya keterampilan public speaking, menulis, tahsin, menjahit, memasak, dll. yang semuanya gratis. Dengan berorganisasi, kita juga akan terbiasa dengan kegiatan diskusi-diskusi yang sehat. Dengan begitu, tentu ilmu dan keterampilan kita kian bertambah.

6.       Ajang Latihan Dunia Kerja

Bagi saya, berorganisasi sama saja dengan bekerja. Toh tujuannya sama-sama untuk mencapai visi tertentu. Yah, memang perbedaannya hanya  terletak pada bayaran, dalam organisasi jangan berharap upah, namun pengalaman. Salah satu contohnya, kita jadi paham prosedur membuat proposal bantuan dana, paham cara kerja event organizer, dsb.

7.       Pahala 

Dengan berorganisasi, kita belajar untuk bekerja dengan niat ikhlas tanpa mengharap bayaran. Bekerja atas dasar ingin mewujudkan visi-misi kita sebagai manusia, yaitu bermanfaat bagi manusia yang lainnya. Seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits, bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Semoga semua tetes keringat yang mengucur akan diganti dengan pahala. Aamiin.

Sekarang saya baru sadar pentingnya berorganisasi, berkumpul dengan orang-orang yang semisi. Dan melihat sendiri bukti dari ucapan senior saya yang sekarang menjabat sebagai kepala departemen kemuslimahan di LDK (Lembaga Dakwah Kampus) kampusnya di Samarinda. Sejak di bangku SMA beliau memang aktif dalam organisasi, salah satunya ROHIS (Rohani Islam). Beliau juga menjuarai beberapa lomba debat bahasa inggris, baik tingkat kota, maupun nasional. Dan terbukti, bahwa keikhlasan kerja beliau yang lalu, Allah ganti dikemudian hari. Itu baru di dunia, belum lagi di akhirat kelak. Ya udah, tunggu apa lagi ? Nyok semangat berorganisasi  !

Minggu, 19 Oktober 2014

[Catatan Perjalanan] Pada Akhirnya, Kita Harus Percaya..

Catatan Perjalanan

Pada Akhirnya, Kita Harus Percaya..


Semua karyawan telah berkumpul, membawa barang-barang yang telah terdaftar dalam checklist. Jas hujan, perlengkapan shalat, Al-qur’an dan Al-Ma’tsurat, perlengkapan mandi, pakaian ganti, dll. cukup membuat tas kami gembung. Yang kami tahu, kami akan menginap.

Jam yang tergantung di dinding kantor menunjukkan pukul 14.00 Wita. Kami masih penasaran, akan kemanakah tujuan perjalanan kami siang ini.  Pihak panitia sengaja tidak memberi tahu kami mengenai tempat dan susunan acara, sontak ini membuat kami bertanya-tanya dan antusias.

Setelah sebuah bus berwarna abu-abu bertuliskan POLDA singgah di hadapan, kami mulai menerka-nerka. Terbesit dalam benak kami, bahwa kami akan menjalani serangkaian proses latihan fisik yang dibantu oleh para polisi. Wih, betapa menegangkan saat-saat membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.



Diawali dengan doa bersama, bus kami mulai meluncur. Sempat terdengar kabar bahwa kami akan melakukan outbound di Pantai Lamaru Balikpapan. Tapi entahlah, hal yang terpenting bagi kami adalah kebersamaan. Kami terkaget-kaget ketika bus yang kami tumpangi berhenti di suatu sekolah. Bukan. Bukan sekolah kepolisian atau semacamnya. Kami akan menginap disini, di SMK  Negeri 5 Balikpapan.

Setelah upacara pembukaan outbound, panitia memeriksa tas kami. Mengeluarkan barang-barang yang tidak tercantum dalam checklist. Ponsel, selimut, bantal, makanan, atau apapun yang tidak tercantum dalam checklist barang bawaan, akan disita sementara oleh panitia. Itu artinya, selama menginap disini kami tidak berkomunikasi dengan teman atau keluarga.  Suatu hal yang tidak biasa bagi kami. Atau hanya saya, karyawan baru.

Selama kegiatan, kami ditantang dengan beberapa target. Yaitu membaca Al-qur’an 1 juz dan Al-Ma’tsurat, menghafal nama dan alamat teman lain, dll.

Setelah shalat ashar berjama’ah, kami melakukan kegiatan outbound dengan dibagi menjadi beberapa kelompok. Sedangkan saya adalah salah satu anggota dari kelompok 5 (akhwat). Sungguh menyenangkan ketika saya bisa memetik makna dari setiap permainan yang ada, salah satunya adalah Trust Fall. Saya harus berani menjatuhkan diri dari ketinggian yang kurang lebih 2 meter, sedangkan beberapa teman yang lain menangkap saya dengan jaring. Ya, hanya 2 meter. Namun, ini tidak semudah yang saya bayangkan. Bagaimana jika mereka tidak menangkap saya ? Ah, sudahlah. Dicoba saja !

Setelah dipastikan aman, pembina kegiatan pun memberi aba-aba,

“ Di bawah, siap ?”

Teman-teman menjawab dengan lantang, “Siap !”

 “Di atas, siap ?”, Menanyakan kesiapan saya.

“Eng....InsyaAllah, siap !”

Dengan perasaan takut, pasrah, dan percaya, saya pun menutup mata, menggenggamkan tangan, mulai menjatuhkan diri. Pasrah dengan takdir Allah, mencoba melawan perasaan takut, dan percaya bahwa teman-teman bisa menangkap saya, menjaga saya. Dan akhirnya, huwaaaaa ! gubraakkk !

Saya terpejam, menatap langit-langit. Memandang hamparan luas berwarna biru dengan sedikit awan putih menutupinya. Dimana saya sekarang ? Apakah saya masih hidup ? Alhamdulillaah, ternyata masih !

Dan tanpa terasa kumandang adzan maghrib mengundang kami untuk segera menuju rumah Allah, sholat bersama.

Pesan yang tersimpan dalam permainan ini adalah, setiap manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan bantuan orang lain dalam menaklukan skenario kehidupan. Tak sekadar dipercaya, kita pun belajar untuk mempercayai :)



Balikpapan, 8 Agustus 2014

https://www.facebook.com/notes/rizka-amalia/catatan-perjalanan-part-1/299740883543863

Selasa, 14 Oktober 2014

Tua (belum) Tentu Dewasa, Dewasa (tak) Harus Tua




Mungkin pernah terbesit dalam hati tentang cara menjadi seseorang yang dewasa. Terinspirasi oleh orang lain yang memiliki sikap bijaksana dan mampu mengelola emosi di usia yang terbilang muda. Disadari atau tidak, mungkin kita pernah bertanya dalam hati, “bagaimana bisa dia yang semuda itu memiliki sikap yang lebih dewasa dari saya?”
Sebagai penulis, sebenarnya saya malu untuk mengangkat tema “Dewasa” dalam artikel ini, namun  saya rasa tak salah jika ingin berbagi pengalaman yang semoga bisa menginspirasi para pembaca.  
                Berdasarkan pengalaman hidup, baik murni maupun dari pengalaman orang di sekitar,  saya menyimpulkan ada beberapa faktor yang membuat seseorang menjadi dewasa, yaitu :
1.       Usia
Semakin tinggi angka usia seseorang, maka akan semakin tinggi tingkat kesadarannya akan cara bersikap, menghadapi permasalahan, dan mengambil keputusan. Pola berpikir kita ketika duduk di bangku SD tentu berbeda dengan ketika kita sudah menyandang status sebagai mahasiswa. Sebagai contoh, ketika  kecil kita selalu menuntut apa yang kita inginkan agar segera terpenuhi dan jika tidak, kita akan menangis sebagai wujud atau ekspresi kekecewaan. Berbeda dengan sekarang, kita sudah memahami hukum-hukum alam, bahwa tak semua yang kita harapkan dapat kita capai.

2.       Masalah
Seorang yang sedari kecil sudah terbiasa menghadapi berbagai persoalan hidup dan mengatasinya sendiri tentu akan jauh lebih berpengalaman dari mereka yang selalu lari dari masalah. Percaya atau tidak, cobaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya bukanlah untuk menyusahkan kita, melainkan untuk menguji dan membentuk kedewasaan itu sendiri.

3.       Teman
Sebagai seorang muslimah, saya meyakini apa yang disebutkan dalam suatu hadits, bahwa kepribadian seseorang tergantung dari siapa ia berteman. Seorang yang bersahabat dengan seseorang yang memiliki kepribadian dewasa, maka sedikit banyak ia akan menjadi seseorang yang dewasa pula. Sahabat yang dewasa akan selalu mengajak kepada kebaikan, karena salah satu ciri seorang yang dewasa adalah mampu membedakan antara hal baik dan buruk. Teman yang dewasa akan selalu mengingatkan ketika kita salah.

Dari sekian banyak faktor yang membuat kita dewasa, tentu yang terpenting adalah faktor dari dalam diri kita sendiri. Allah tidak akan mengubah keadaan kita, kecuali kita yang berusaha untuk berubah. Semoga kita semua bisa menjadi seseorang yang lebih dewasa lagi dalam berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan. Aamiin.

Balikpapan, 15 Oktober 2014

Minggu, 20 Juli 2014

Akar, Daun, dan Buah



Rupanya takdir yang menghantarkan saya  bekerja di  lembaga pendidikan memberikan banyak pelajaran. Sekolah ini tak hanya berhasil mendidik siswa, tapi juga perangkat-perangkat di dalamnya. Karyawan dan warga sekitar.


Ah, dunia ini memang tempat untuk belajar. Apapun itu. Jika kita mau mengambil pelajaran. Hal-hal unik terkadang berseliweran di depan mata ibarat debu, namun kita tidak sempat mengambil jeda sejenak untuk memetik hikmah dari setiap drama kehidupan yang Allah beri. Rugi rasanya menghapus air mata demi sinetron di televisi. Hehe.

Jumat, 23 Mei 2014

E M B U N

E m b u n . . .

Ah, sungguh malu mendeskripsikan tentang ciptaan Allah yang satu ini. Malu sekali. Bagaimana tidak ? Lihat saja dia, sederhana. Tidak percaya ? Esok pagi, buka saja jendela kamar lantas lihatlah ke luar. Perhatikan sejenak dedaunan hijau itu, adakah setetes air bening disana ? Jika ada, dekatilah. Ia sederhana bukan ? Tanpa warna, polos, bening. Tapi memesona, menyejukkan hati yang memandang, menyegarkan alam, indah sekali. Meski tanpa warna, tanpa perlu crayon, cat air, cat minyak,  ataupun cat-cat lainnya. Kita harusnya tahu,  justeru  kepolosan, kebeningan, juga kesederhanaan itulah ia terlihat indah. Sejatinya sederhana itulah makna keindahan. Maka aku malu ketika aku harus memiliki pakaian mewah, perhiasan mahal, dan make-up tebal terlebih dahulu untuk bisa merasa indah.

E m b u n . . .

Aku sedih untuk kedua kalinya karena menyebut kata itu. Dan untuk kedua kalinya juga merasa malu. Bagaimana tidak ? Ia mampu bertahan di atas daun yang hijau, ranting-ranting, rerumputan, menempel pada kaca-kaca yang berdebu atau bahkan daun yang kering hanya untuk memberi kesejukan. Ia tidak pernah memilih atau sekadar menyeleksi akan kemana ia menempel.

Kamis, 15 Mei 2014

Iman dan Godaan

Ketika suatu bangunan goyah,mungkin ada yang salah dengan pondasinya
Jika pondasi itu tersusun dari bahan berkualitas,maka kokohlah bangunannya
Ia dapat menahan beban konstruksi,beban angin,beban gempa,dll.

Ketika diri mulai goyah,mungkin ada yang salah dengan niat
Jika niatnya lurus,pastilah kokoh pendirian itu
Hingga dapat menahan beban hidup di pundak

Jadi jika suatu bangunan retak,atau bahkan roboh karena angin
Jangan salahkan angin,karena bisa jadi pondasinya lemah

Begitu juga kala diri mulai goyah,bahkan runtuh
Jangan salahkan godaan orang lain,bisa jadi tameng diri yang lemah


RA

Masa Transisi

Ketika masa transisi berlangsung,peralihan kanak-kanak menuju dewasa
Godaan datang dari arah manapun,entah dari luar maupun dalam diri

Ibarat kapal sedang berlayar,godaan terbesarnya ialah angin kencang
Deru angin menghempas bahtera dari arah tak terduga,entah timur atau barat

Mungkin salah satu godaan terbesar itu bernama cinta
Entah itu cinta monyet atau sekelas cinta gorilla

Kita belajar,bahwa inti kedewasaan ialah pengendalian diri

R.A